Selasa, 06 Oktober 2015

Senyum Ompong Si Bocah Kecil



                Tanah merah itu baru saja usai ditimbun, batu nisan bertuliskan nama bocah kecil itu pun telah terpasang rapih, satu dua bangun kemboja berjatuhan ditiup angin, seakan pohon kamboja ikut melepas kepergian bocah kecil malang itu. Makam itu begitu cepat lengang, tak ada tangisan yang melepas kepergian bocah itu, tak ada ratapan kehilangan, hanya ada aku memandangi nisannya yang bisu. Baiklah bocah kecil ku temani kau, mari berbincang sejenak sebelum kita berpisah dan aku hanya akan menemukanmu dalam ingatanku.

                Pertama kali aku berjumpa dengamu sobat, kau menyambutku dengan senyuman lugu yang teramat khas, dua gigi ompongmu tidak menghalangimu untuk melepas senyum sempurna. Untuk satu hal ini tampaknya aku harus belajar padamu cara tersenyum dan terus bahagia di keadaan sesulit apapun, sebab ternyata kurang gigi tidak membuatmu lantas menyembunyikan senyuman polosmu. Begitupun aku harus tetap tersenyum meski kehidupanku kurang “gigi” yang berkecukupan untuk memudahkan hidupku. Tentu jika aku berbicara seperti ini tentang ompongmu dan kehidupanku engkau akan memasang wajah bingung lengkap dengan mulutmu yang terbuka lebar begitu saja ketika kau bingung.  Bukan begitu, buka bukan, maksudku bukannya aku kekurangan gigi, maksudku bukan itu, baiklah aku jelaskan sedikit. Tahukah kamu sobat kecil? Orang dewasa terkadang tidak lebih baik darimu, masalah sekecil apapun bahkan lebih kecil dari celah dua gigimu yang ompong bisa membuat wajah mereka kusut tanpa senyum terkembang sedikitpun. Apakah kau mengerti sobat kecil? Ah sudahlah mungkin jika umurmu panjang kau akan mengerti apa yang aku maksud, atau mungkin kau akan menjadi salah satu orang dewasa yang lupa cara tersenyum juga. Sembari tetap mengembangkan senyum kau datang menghampiriku bertanya tanpa ragu kepadaku, “om, nama om siapa?” suaramu yang nyaring lucu membuatku seketika tersenyum kecil kemudian tanpa kusadari tanganku bergerak begitu saja mengusap rambutmu yang panjang memerah. “Nama Om Rif’at, Namamu siapa?” kataku, “Namaku Ian om”, “ Rumahmu dimana? Anak bapak siapa? Rasanya om baru melihat kamu, oh mungkin karena om belum banyak mengenal kampung ini, oom baru pindah”. “ Rumahku dekat sungai om, nama bapak saya Imran om, tapi saya tidak pernah melihat bapak dan ibu saya om, sejak kecil aku tinggal bersama nenek” ujarmu, lantas aku bertanya “ orang tuamu dimana?” “ orang tuaku kata nenek meninggal kecelakaan sewaktu saya kecil” dengan mudahnya kau menjawab tanpa mengurangi keceriaan suaramu. Tahukan engkau sobat kecil, kau begitu hebat dimataku, jauh lebih hebat daripada diriku yang pengeluh, kau mampu tersenyum begitu sempurna dalam “ompongnya” kehidupanmu tanpa kedua orang tuamu, rasanya kau lebih pantas diberi gelar laki-laki sejati dibandingkan aku. “kau mau permen?” ujarku menawarkan. “Mau oom, yang banyak yaa…” kau menjawab sambil melebarkan senyumanmu, dan membuat ompongmu semakin jelas terlihat, membuatku tertawa, dan aku berkata dalam hati, “ kau guru kehidupanku sobat kecil, kau mengajarkanku cara tersenyum, lebih berharga dari sebungkus permen yang kuberikan”. Ternyata sebungkus permen itu adalah pemberianku padamu yang pertama dan terakhir untukmu sobat kecilku, kali kedua aku ingin bertemu denganmu, aku hanya bisa berbincang dengan nisanmu, sakit typhus membuatku tidak bisa melihat senyummu. Aku tidak bisa memberikanmu sebungkus permen kesukaanmu, hanya sebungkus doa aku panjatkan pada rabb semesta alam agar kau ditempatkan disisinya, selamat tinggal sobat kecilku, aku harus pergi meninggalkan pemakaman ini, terimakasih atas senyumanmu…..