
Tanah
merah itu baru saja usai ditimbun, batu nisan bertuliskan nama bocah kecil itu
pun telah terpasang rapih, satu dua bangun kemboja berjatuhan ditiup angin,
seakan pohon kamboja ikut melepas kepergian bocah kecil malang itu. Makam itu
begitu cepat lengang, tak ada tangisan yang melepas kepergian bocah itu, tak
ada ratapan kehilangan, hanya ada aku memandangi nisannya yang bisu. Baiklah
bocah kecil ku temani kau, mari berbincang sejenak sebelum kita berpisah dan
aku hanya akan menemukanmu dalam ingatanku.
Pertama
kali aku berjumpa dengamu sobat, kau menyambutku dengan senyuman lugu yang
teramat khas, dua gigi ompongmu tidak menghalangimu untuk melepas senyum
sempurna. Untuk satu hal ini tampaknya aku harus belajar padamu cara tersenyum
dan terus bahagia di keadaan sesulit apapun, sebab ternyata kurang gigi tidak
membuatmu lantas menyembunyikan senyuman polosmu. Begitupun aku harus tetap
tersenyum meski kehidupanku kurang “gigi” yang berkecukupan untuk memudahkan
hidupku. Tentu jika aku berbicara seperti ini tentang ompongmu dan kehidupanku
engkau akan memasang wajah bingung lengkap dengan mulutmu yang terbuka lebar
begitu saja ketika kau bingung. Bukan
begitu, buka bukan, maksudku bukannya aku kekurangan gigi, maksudku bukan itu,
baiklah aku jelaskan sedikit. Tahukah kamu sobat kecil? Orang dewasa terkadang
tidak lebih baik darimu, masalah sekecil apapun bahkan lebih kecil dari celah
dua gigimu yang ompong bisa membuat wajah mereka kusut tanpa senyum terkembang
sedikitpun. Apakah kau mengerti sobat kecil? Ah sudahlah mungkin jika umurmu
panjang kau akan mengerti apa yang aku maksud, atau mungkin kau akan menjadi
salah satu orang dewasa yang lupa cara tersenyum juga. Sembari tetap
mengembangkan senyum kau datang menghampiriku bertanya tanpa ragu kepadaku, “om,
nama om siapa?” suaramu yang nyaring lucu membuatku seketika tersenyum kecil
kemudian tanpa kusadari tanganku bergerak begitu saja mengusap rambutmu yang
panjang memerah. “Nama Om Rif’at, Namamu siapa?” kataku, “Namaku Ian om”, “
Rumahmu dimana? Anak bapak siapa? Rasanya om baru melihat kamu, oh mungkin
karena om belum banyak mengenal kampung ini, oom baru pindah”. “ Rumahku dekat
sungai om, nama bapak saya Imran om, tapi saya tidak pernah melihat bapak dan
ibu saya om, sejak kecil aku tinggal bersama nenek” ujarmu, lantas aku bertanya
“ orang tuamu dimana?” “ orang tuaku kata nenek meninggal kecelakaan sewaktu
saya kecil” dengan mudahnya kau menjawab tanpa mengurangi keceriaan suaramu.
Tahukan engkau sobat kecil, kau begitu hebat dimataku, jauh lebih hebat
daripada diriku yang pengeluh, kau mampu tersenyum begitu sempurna dalam
“ompongnya” kehidupanmu tanpa kedua orang tuamu, rasanya kau lebih pantas
diberi gelar laki-laki sejati dibandingkan aku. “kau mau permen?” ujarku
menawarkan. “Mau oom, yang banyak yaa…” kau menjawab sambil melebarkan
senyumanmu, dan membuat ompongmu semakin jelas terlihat, membuatku tertawa, dan
aku berkata dalam hati, “ kau guru kehidupanku sobat kecil, kau mengajarkanku
cara tersenyum, lebih berharga dari sebungkus permen yang kuberikan”. Ternyata
sebungkus permen itu adalah pemberianku padamu yang pertama dan terakhir
untukmu sobat kecilku, kali kedua aku ingin bertemu denganmu, aku hanya bisa
berbincang dengan nisanmu, sakit typhus membuatku tidak bisa melihat senyummu.
Aku tidak bisa memberikanmu sebungkus permen kesukaanmu, hanya sebungkus doa
aku panjatkan pada rabb semesta alam agar kau ditempatkan disisinya, selamat
tinggal sobat kecilku, aku harus pergi meninggalkan pemakaman ini, terimakasih
atas senyumanmu…..