Sabtu, 19 Desember 2015

Kutunggu Kau di Surganya

Pagi di desa Sumberejo kecamatan Batur wilayah Kabupaten Banjarnegara yang berada dibawah puncak Dieng itu begitu dingin, mata hari baru saja menampakkan sinarnya, burung-burung bersiul di dahan-dahan pepohonan. “pak’eee, pak’eee” keheningan pagi di rumah kediaman Bapak Said dipecahkan oleh teriakan Putri Bungsunya Afifah. “opo to nduk….” Timpal Bapak Said yang sedang duduk di Ruang Tamu bersama sang Istri menikmati secangkir Teh dan sepiring pisang goring hangat. “ini lo pak, ada berita di Internet, ada seorang wanita palestina di tembak hingga tewas karena menolak melepaskan cadar, hebat benar ya pak, sangat berani, beda dengan di Indonesia, banyak wanita yang membuka auratnya tanpa diminta” kata Afifah. “jadi muslimah harus begitu ndok, harus berpendirian teguh untuk mempertahankan izzah dan kehormatan kita” timpal sang Ibu. “ Afifah mau jadi seperti dia bu, jadi wanita yang berani dan berprinsip serta taat pada Allah, semoga saja mas Baits dapat istri seperti itu juga” ujarnya. “Kabar mas Baits gimana ya nduk, bukannya mas mu bilang mau telepon hari ini, ada kejutan katanya” Pak Said menanyakan kabar putra sulungyan yang sudah dua tahun menjadi relawan kemanusiaan di Palestina. “sebentar, nduk kirim pesan dulu” jawabnya.
Assalamulaikum mas, gimana kabarnya? Jadi telepon ndak? Bapak sama ibu, nanyain mas, katanya ada kejutan, kejutan apa sih? Bikin penasaran aja. Afifah membuka percakapan.
Setelah 30 menit berlalu hp Afifah bordering, “walaikumsalam dek, Alhamdulillah kabar mas baik-baik saja dan selalu dalam perlindungan Allah, sepertinya tidak jadi telpon, ada banyak pasien yang harus diobati, ini mas baru saja selesai mengoperasi korban ledakkan ranjau, titip salam kangen buat bapak dan ibu.
****
Hawa mencekam memenuhi udara di kota Hebron yang berada di tepi barat Palestina. Bangunan luluh lantah menghiasi sudut-sudutnya. Sesekali tembakan senapan memekikan hawa kematian di sudut-sudut kota yang dirampas hak miliknya oleh tentara Israel yang biadab. Tatapan penuh kebencian yang mendalam memancar dari mata para serdadu, nyalang mencari alasan untuk menganiaya bahkan membunuh warga palestina. Kendati telah habis alasan yang bisa mereka dapatkan sebagai pembenaran atas tindakannya, dengan ringan dan tanpa merasa bersalah mereka menganiaya warga palestina. Parade kekejian di trotoar jalan silih berganti dengan aktor utama yang sama, tentara Israel sebagai sang antagonis dan warga palestina sebagai korbannya.
            Seorang gadis  palestina bernama Zahra berumur 19 tahun berjalan tergesa-gesa. Matanya yang tajam menoleh beberapa kali kebelakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Cadar hitam yang dikenakannya sejak kecil tak mampu menyembunyikan ketakutannya yang terpancar dari tatapan matanya yang penuh curiga. Beberapa kali ia tersandung reruntuhan bangunan yang berceceran di trotoar. Ia sangat tahu sekali teramat berbahaya berjalan sendirian di kota kelahirannya ini. Ratusan cerita kembali terngiang dibenaknya tentang kekejaman demi kekejaman yang menimpa saudara-saudarinya yang dilakukan oleh kaum Yahweh. Gang demi gang ia lewati dengan penuh rasa was-was, khawatir jika ada tentara yang muncul dari balik gang. Jikalau tidak ada alasan yang teramat mendesak Ia tidak akan keluar rumah, ia harus mengantarkan obat-obatan ke Rumah Sakit tempat Ayahnya bekerja suka rela merawat korban luka-luka. Kemarin malam Ayahnya mengabarkan obat bius telah habis di Rumah Sakit sedangkan sore nanti aka ada pasien yang menjalani operasi. Tetiba ia mendengar suara samar yang sangat ia hafal. Suara yang selalu menghantuinya, suara yang menyimpan cerita pilu, suara yang jika  ia dengar di pagi hari maka ia akan kembali mendengarnya di malam hari sebagai mimpi buruk. Suara itu, suara derap berat sepatu tentara Israel yang ia dengar ketika ia dipaksa bersembunyi oleh ibunya di kolong ranjang.  Tepat ketika ia masuk di kolong ranjang suara itu terdengar semakin dekat dan berhenti tepat didepan pintu rumahnya yang mungil. Kemudian keheningan menyelimuti ia dan ibunya untuk beberapa detik, sebelum suara pintu yang didobrak mengagetkannya dan bulir-bulir air mata membasahi wajahnya yang ketakutan. Pintu kamar yang sudah dikunci rapat pun didobrak, kemudian dua orang tentara Israel menatap bengis ibunya yang berdiri gemetaran sambil mengacungkan sebilah pisau dapur dengan tangan gemetar. “ Hai moslemah bodoh, apa yang bisa kau lakukan dengan pisau dapurmu itu, hendak membunuhku hah!!” sang tentara membentaknya dengan wajah bengis merendahkan.
“pergi kalian, pergi!!! Jangan menggangguku” jawabnya sambil mengacung-acungkan pisau. “hahahahaha, dasar kau bodoh. Sebodoh pakaian yang kau kenakan” timpal tentara Israel lainnya. “apa kau ingin selamat??” ujar tentara pertama. “lepas cadar dan jilbab yang kau kenakan itu” lanjutnya.
“tidak!!!” ibunya berteriak dengan garang, seakan lenyap rasa takut yang tadinya ia rasakan, matanya membeliak menatap tajam dua tentara Israel itu, tangannya yang mulanya gemetar kini kukuh menggenggam pisau. “walau nyawa taruhannya aku tidak akan sudi kau lecehkan dasar tentara Israel busuk!!!” ia berteriak marah. Baginya cadar dan jilbab ialah perlambang kehormatan dan ketaatan pada Allah tuhan semesta alam, menanggalkannya merupakan kehinaan baginya.
Sekejap dua peluru menembus dada dan perutnya lalu ia ambruk membelakangi dua tentara Israel itu, tepat menghadap putrinya yang bersembunyi di kolong ranjang. Ia menatap putrinya yang dengan sekuat tenaga menahan tangisnya, namun air matanya tak terbendung, tumpah begitu deras menganak sungai menatap ibunya yang berlumuran darah meregang nyawa. Ibu yang sangat ia cintai dengan sepenuh jiwa, yang selalu menanamkan nilai-nilai islam dalam hatinya, kini terkapar tak berdaya. Cadar yang ibunya kenakan terlepas, deraian air mata membanjiri wajah teduh itu, dengan sisa-sisa tenaganya ia taruh satu jari tepat dibibirnya yang mengisyaratkan putrinya untuk tetap diam, sebab tentara Israel belum lama pergi, kemudian ia genggam cadarnya yang terlepas, ia taruh tepat diatas dadanya kemudian ia ulurkan pada putrinya seakan berkata “jagalah cadarmu yang baru kemarin aku hadiahkan padamu, itu adalah simbol kehormatan dan ketaatan kita pada Allah”. lamat-lamat terdengar dua kalimat syahadat ia ucapkan sebagai penutup hayatnya. Tak kuasa Zahra menahan tangisnya lagi, ia mengabaikan pesan ibunya agar tetap diam. Sengguk tangisnya makin lama makin keras, berjam-jam ia meratapi kematian ibunya,  ia peluki jasad ibunya yang tak lagi bernyawa. Ia menangis hingga matanya bengkak dan kehabisan air mata, namun kesedihan yang ia rasakan tidaklah cukup untuk sekedar ditumpahkan dengan air mata ia terus menangis dengan suara yang makin lama semakin parau lalu lenyap sama sekali, ia pingsan  ketika hari mulai gelap, ketika siang kehilangan pelita, seperti Zahra yang kehilangan pelita hidupnya yang amat ia sayangi meninggalkan kegelapan yang amat memilukan.
            Tembakan senapan dari kejauhan menyadarkan Zahra dari lamunan singkatnya yang memilukan, menyisakan sebutir embun di sudut matanya  yang jatuh begitu saja tanpa sempat ia seka, seperti kenangan buruk yang hadir begitu saja tampa sanggup ia cegah. Ketakutannya semakin menjadi, sedang derap sepatu itu semakin mendekat. Ia bimbang antara melanjutkan perjalanan atau bersembunyi di balik reruntuhan bangunan. Ia memutuskan untuk bersembunyi dibalik reruntuhan rumah yang roboh. Bibirnya tak berhenti mengucap dzikir seraya memohon perlindungan pada Rabb yang maha kuasa.

*****

            “Bedebah, setiap hari kita harus berpatroli seperti ini.” Umpat seorang Tentara Israel berkepala botak. “ini semua akibat penduduk Palestina yang hina, harusnya mereka sadar dan segera angkat kaki dari tanah ini, Kuil Solomon yang berada dibawah Baitul Maqdis sudah menjadi bukti tanah ini diperuntukkan bagi kaum terbaik dan termulia yaitu Yahudi” tentara lain yang bertubuh paling gempal dari yang lain menanggapi. “Pantas saja jika kita bunuhi mereka, darah mereka tak lebih berharga dari lumpur dibandingkan kejayaan kaum Yahudi, kesalahan terbesar mereka adalah beragama Islam, sangat pantas mereka mati, Hahahahahaha” jawab tentara bertubuh paling kekar ia tertawa dengan seringai penuh kebencian. “ Sudah seminggu ini senapanku tak kutembakkan pada orang-orang hina itu, terakhir kali aku tembakkan setengah bulan yang lalu, itupun hanya membunuh seorang anak kecil, akan lebih baik jika hari ini senapanku bisa mencabut nyawa seorang wanita, sebab dari rahim para wanita palestina itulah musuh-musuh kita terus lahir dan merintangi kejayaan kaum kita” tambah tentara bertubuh kekar, sambil mencoba mengarahkan senapannya keberbagai arah seakan siap mewujudkan keinginannya yang begitu keji pada hari itu. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada ujung kain hitam di reruntuhan bangunan di seberang jalan. Satu kilatan aneh muncul di matanya, senyum tipis nan bengis terkembang, lalu dia arahkan bidikkan senapan yang ia genggam kearah kain hitam itu. Ia Tarik perlahan tuas kokang senapannya, dalam hati dia menghitung perlahan, satu….. dua….. tiga….duarr……nyalak senapan memecah keheningan kala itu, kain hitam koyak tertembus hujaman timah yang dimuntahkan moncong senapan. Dua temannya tersentak kaget “Hei apa yang kau lakukan!!, buat apa membuang buang peluru dengan percuma seperti itu?” tentara berbadan tambun berteriak kesal. “lihat kesana bodoh” ujar tentara berbadan kekar seraya menunjuk ujung kain hitam yang terkoyak peluru. “hahahahaha itu hanya kain hitam, buat apa kau tembaki, sudah gila rupanya kau karena tidak membunuh muslim muslim bodoh itu selama dua minggu” tentara berkepala botak mencibir tentara berbadan kekar. “lihat ini, dan perhatikan baik-baik” si kekar mendengus kesal karena merasa direndahkan, dhuarrr….. lagi lagi ia tembakan senapannya pada kain hitam diantara reruntuhan bangunan, berharapa ada satu teriakan histeris dari seorang wanita palestina, sebab dia yakin sekali kain hitam itu adalah ujung jilbab wanita palestina, bahkan teramat yakin sebab sudah sering kali dia menganiaya mereka, memaksa melepas jilbab, menodai mereka kemudian membunuhnya. Dua temannya menertawakannya dengan maksud mengejeknya kemudian dengan penuh kekesalan dan kekecewaan ia tembak lagi kearah kain hitam itu dengan asal, dan mengenai tembok didekatnya, kemudian satu teriakan tertahan terdengar perlahan dan terkembanglah senyum penuh kemenangan di wajah si kekar, dua temannya yang tertawa terbahak-bahak terdiam dan tanpa komando mereka bertiga berjalan keaarah datangnya suara teriakan itu.
****
           
            Jantungnya berdegup cepat tatkala ia mendengar suara percakapan tentara Israel yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari tempatnya bersembunyi. “ Sudah seminggu ini senapanku tak kutembakkan pada orang-orang hina itu, terakhir kali aku tembakkan setengah bulan yang lalu, itupun hanya membunuh seorang anak kecil, akan lebih baik jika hari ini senapanku bisa mencabut nyawa seorang wanita, sebab dari rahim para wanita palestina itulah musuh-musuh kita terus lahir dan merintangi kejayaan kaum kita” salah seorang tentara berceloteh dengan ringannya tentang keinginannya untuk membunuh wanita palestina, membuat ketakutan Zahra semakin menjadi, keringat dingin bercucuran, dan pandangannya serasa berputar dan gelap sejenak. Ketakutannya semakin parah, hingga tubuhnya bergetar, ia tidak sadar bahwa ujung jilbab panjangnya menjulur keluar dari tempat persembunyiannya. “Dhuarrrrrr” satu tembakan timah panas mengagetkannya, serasa nyawanya berhamburan meninggalkan raganya kala itu, hampir ia menjerit histeris, jikalau saja ia tidak menguatkan diri dan memaksakan diri untuk mengigit ujung baju yang sengaja ia gigit untuk meredam gemetar ketakutan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Tembakan yang datang tiba-tiba dari arah belakang tubuhnya membuatnya hampir pingsan dilanda ketakutan, terasa begitu dekat sekali.  Ia coba memberanikan diri untuk menoleh kebelakang karena ada hawa panas yang menguar dan bau terbakar. Apa yang ia lihat membuatnya terperanjat ketakutan, ujung jilbabnya telah terkoyak dan ujung runcingnya pun telah lenyap, menyisakan pola koyak yang mengerikan, asap tipis mengepul dari lubang di tanah yang ditembus peluru. Untaian dzikir yang ia dengungkan semakin cepat, memohon perlindungan dari semua kengerian kepada Allah yang maha segalanya, kendati baginya kematian yang syahid pun dengan bahagia akan diterima jika itu adalah ketentuan yang digariskan untuknya. Ia amat percaya balasan dari Allah adalah sebaik-baik balasan. Sejak kecil ia telah terbiasa menyaksikan kematian, bahkan kematian ibu kandungnya terjadi dihadapannya. Ia tumbuh atas bimbingan ayahnya yang seorang dokter. Ia faham sekali bahwa terlahir sebagai orang Palestina artinya terlahir sebagai pejuang. Pejuang untuk tanah yang dicintainya terlebih lagi berjuangan untuk agamanya. Meskipun penuh dengan kesulitan, ia sangat bangga menjadi seorang Palestina, menjadi seorang Mujahidah, menjadi tentara Allah yang berani menjemput surganya.
            Ia dengar dua tawa berbarengan yang bernada mengejek pada tentara yang menembak kearahnya karena mengira ujung jilbabnya yang ditembak hanya sekedar kain biasa dan tidak ada siapa-siapa dibelakang reruntuhan, ia bisa bernafas lega. Namun setelahnya Zahra mendengar percakapan singkat antara mereka dan “Si Penembak” kukuh dan bersikeras bahwa ada seseorang dibalik reruntuhan, lalu selongsong peluru kembali ia tembakkan “Duaarrr” hancur ujung jilbab Zahra yang terjulur keluar tembok persembunyiannya tanpa sisa, rasa kaget kembali menyusupi hatinya, namun kali ini ia bisa lebih menguasai diri. Kemudian setelahnya tidak ada percakapan lagi yang ia dengar dari tentara Israel, senyap begitu saja. Namun keheningan itu dirobek oleh satu desingan peluru yang dimuntahkan oleh moncong senapan milik tentara Israel “Si Penembak” tadi tanpa sedikit pun Zahra duga, menembus tembok, dan menyerempet lengannya serta mengoyakkan pakaiannya kemudian mulus meluncur ke reruntuhan tembok. Zahra tak kuasa menahan rasa sakitnya, ia gigit ujung bajunya, namun tak sanggup menahan seluruh erangan sakitnya, hingga sebagian erangannya terdengar ke seluruh penjuru tempat itu. Darah mengalir membasahi lengan dan bajunya, pandangannya sejenak menghitam, pikirannya mengambang, kosong, semua indranya serasa mati, hanya rasa sakit di lengan kirinya yang menjaganya tidak kehilangan kesadarannya secara keseluruhan.  Derap berat sepatu tentara menyentak kesadarannya. Rasa sakit yang ia rasakan hilang sekejap karena ia tahu apa yang akan ia hadapi  akan lebih dari itu. “Hei wanita jalang dibalik tembok, tunjukkan dirimu!!” teriak tentara bertubuh kekar. Zahra bergeming tak bergerak barang satu inci pun dari tempatnya bersembunyi. “Keluar jalangg!!!!!!!! Dasar pelacur” ujar tentara lainnya. Panas telinga Zahra mendengar panggilan yang disematkan padanya, harga dirinya seperti dirobek-robek. Semenjak kecil ia telah menjaga iffah  dirinya dari hal-hal yang merendahkan kemuliaannya sebagai seorang muslimah. Kemuliaan diri seorang muslimah telah ditanamkan mendalam oleh bundanya sejak kecil, di akhir hayat bundanya berpesan untuk terus menjaga cadarnya dan kematian bundanya lah nasihat yang paling membekas didirinya, kematian bundanya menjadi bimbingan terakhir bundanya, bagaimanakah seorang muslimah harus bersikap dalam menjaga iffah, bukan dengan kata-kata bundanya membimbing di akhir hayat, bukan dengan tulisan, tapi dengan sikap berani mempertahankan kehormatan seorang muslimah meski harus mengadu nyawa. “Hai anak pelacur, keluar kau, jika tidak akan ku tembak kau”. Hilang kesabaran Zahra mendengar hinaann itu, hinaan yang ditujukkan kepada bundanya yang amat teguh dan berani, yang amat taat pada tuhannya, yang amat ia sayangi, amarahnya tersulut berkobar-kobar, ia pun berdiri tanpa rasa takut tersisa di hatinya. “Hai manusia-manusia biadab, kalian tak perlu menghina ibuku, bagaimana rasanya jika hinaan itu ditujukan kepada ibu kalian!!??” Zahra berteriak garang. Ketiga tentara itu tersentak dan terdiam sejenak mendengar teriakan Zahra  yang tanpa rasa takut, suaranya lantang, tak ada sedikitpun getar ketakutan terdengar dari suaranya. “Diam kau muslimah bodoh!!! Dasar kau hina, dasar kau jalang, dasar pelacur” tentara bertubuh tambun menggertak, teriakan Zahra yang  menohok hati nurani mereka sesungguhnya sedikit memberi mereka pencerahan bahwa mereka melakukan hal yang salah, namun dinasihati oleh seorang muslimah yang mereka anggap lebih rendah dari bangsa yahudi membuat ego mereka tak menerima begitu saja, bahkan menyulut amarah mereka dan membuat mereka mengingkari hati nurani mereka. Tentara bertubuh kekar ikut berbicara, “hai muslimah bodoh, tak usah kau berteriak-teriak seperti itu, sebelum nyawamu kami cabut, berikanlah kami sedikit kesenangan, hahaahahaha, buka cadarmu dan semua yang melekat di tubuhmu !!!”. Merasa direndahkan sedemikian rupa Zahra begitu murka, sekonyong-konyong ia pungut sebongkah batu kemudian, ia lemparkan sekuat tenaga dan telak mengenai kepala tentara yang merendahkannya, ia siap menerima resiko tindakkannya. “Dasar keparat, kubunuh kau!!! Ujar tentara yang kepalanya dilempar batu, ia mengokang senapannya dan mengarahkannya pada Zahra, “DUARRRR!!!” satu peluru menembus bahu Zahra, tubuhnya mulai limbung, ia terjerembab ke trotoar, darah mengucur dari lukanya, sekelebat ia melihat senyum teduh ibunya yang amat ia rindui, “ibu, yang kulakukan ini benar bukan?” ujarnya lirih. Ia teringat ayahnya “ Ayah maafkan aku, apakah aku sudah menjadi anak yang baik bagimu?” ia teringat pula pada seorang pemuda baru saja menjadi suaminya sehari yang lalu, selepas akad nikah mereka langsung berpisah karena ada panggilan darurat operasi. Suaminya adalah seorang dokter muda spesialis asal Indonesia yang telah dua tahun menjadi relawan di Hebron membantu ayah Zahra, namanya Baits al-Fath “ mungkin aku tidak bisa menjadi istrimu yang utuh didunia ini, ku tunggu kau di surganya” ia berbisik teramat lirih, dua matanya mengembun namun selengkung senyuman bahagia terukir di wajahnya. “ Allah engkau yang maha kuasa, engkau maha segalanya, ampunilah segala dosaku, muliakanlah aku bersama para syuhada, pertemukanlah aku denganmu, dan nabimu yang mulia, Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadarosulullah. “Duarrrr, Duarrrr” dua peluru ditembakkan beruntun oleh tentara bertubuh kekar, satu melesak ke dada sebelah kiri, dan yang lain menembus leher Zahra. Darah mengucur deras dari tubuhnya, ia tersenyum, ia tersenyum mampu menjaga kemuliaanya sebagai bentuk kepatuhannnya pada tuhan semesta alam, nafas terakhirnya ia hembuskan dengan tenang dan perlahan. Angin berhembus perlahan, suasana hening, seakan semesta bisu, berkabung menangisi kematian sang mujahidah dalam diam.

****
            Suasanan Rumah Sakit Hebron teramat sibuk, udara dipenuhi tangisan anak kecil dan erangan orang dewasa yang terluka akibat tembakan maupun ranjau, dua orang dokter terlihat gusar didepan ruangan operasi. Dokter yang pertama berwajah asli palestina berusia sekitar 50 an tahun, sedang dokter yang kedua berwajah asia tenggara, kulit sawo matang, dengan mata yang bulat namun tajam dan berwibawa. “ya bunayya maa ladzi yamna’u Zahra ‘an ityanin muta’ajilin?”[1] ujar sang dokter berwajah Palestina. “ishbir abii, wa an tuhassin dzonnaka ‘ala Allahi[2]” sang dokter berwajah Asia mencoba menenangkan Dokter Palestina yang juga mertuanya itu, padahal ia pun risau karena istrinya tak juga datang, cincin perkawinan  dari perak yang tersemat di jari manisnya diputar-putar dengan tangan kanan, kemudian tanpa sadar cincinnnya terlontar ke sudut ruangan, ia memungutnya sambil menatapnya nanar, entah kenapa ada rasa cemas yang begitu besar menelusup ke relung hatinya yang paling dalam. Didalam ruangan operasi yang tertutup terdengar lirih erangan seorang anak kecil yang terkena serpihan bom fosfor, kakinya hancur berantakkan sebatas lutut. Disampingnya ada ayahnya yang tak hentinya mengusap rambut anaknya yang setengah sadar sambil berdzikir. Dari ujung lorong terdengar derap langkah kaki yang bergema disepanjang lorong, seorang perawat pria tergopoh-gopoh berlari kearah dua dokter itu. “ya thobib ya thobib, khobar muhzin”[3] ia berkata pada dua Dokter itu dengan ter-engah-engah. “askin nafsaka ya akhi, wa bayyin ‘an khobarin alladzi ji’tanaa li ajlihi bil khuduu[4]” jawab dokter berwajah asia itu sembari menenangkan dengan logat arab yang hampir sempurna. “sayyyidah, sayyidah ya thobib..”[5] sang perawat masih kesulitan berbicara “ romaa junuudu isroiil sayyidah Zahra bil bunduqiyyah fa qodhou alaiha”[6]. Suara putus-putus perawat itu bak halilintar menggelegar di siang bolong tat kala musim kemarau di telinga Baits sang dokter berwajah Asia. Dunia serasa berputar, pandangannya menggelap, kesedihan yang begitu dalam menyesakkan dadanya. Usia pernikahannya baru saja sehari semalam, bahkan ia belum sempat mengabari keluarganya di Indonesia akan pernikahannya karena kesibukkannya merawat pasien tak pernah usai. Ia hanya mengirim pesan kepada Adik perempuan bahwa hari itu setelah mengoperasi pasien akan menelepon dan akan memberikan kejutan. Tetes – tetes air mata kesedihan menganak sungai bermuara dari hatinya yang paling dalam, mengalir melalui dua sudut matanya, membentuk aliran sungai di wajahnya yang didera kesedihan yang amat sangat dalam. Dengan sangat lirih, bahkan hanya didengar ia sendiri, ia berkata, “Allah lah pemilik seluruh dunia ini, ia yang menyatukan kita, ia pula yang memisahkan kita. Perpisahan ini hanya sementara sayang, sebab perpisahan sesungguhnya diantara dua jiwa yang saling mencinta adalah ketika salah satu dari mereka di syurga dan lainnya di neraka, tunggu aku di surganya[7]”. Ia seka air matanya hingga tak berbekas, dan ia berjanji untuk tak lagi bersedih, karena perjumpaan yang lebih indah telah disiapkan buatnya di surganya, kemudian ia berlalu menyongsong obat bius dari bantuan kemanusiaan yang baru saja tiba, dan mulai mengoperasi pasiennya. Tak ada waktu baginya untuk bersedih, tak ada sesal, tak ada risau, yang ada hanya syukur yang tiada henti, tawakkal tanpa putus, serta keyakinan yang tak ternoda keraguan sedikitpun bahwa janji Allah nyata, dan Allah lah sebaik-baik pemberi balasan.




[1] Wahai anakku, apakah yang merintangi Zahra sehingga tidak bisa datang dengan cepat?
[2] Sabarlah ayah, dan berhusnudzanlah pada Allah
[3] Hai dokter, hai dokter ada berita buruk
[4] Tenangkan dirimu terlebih dahulu, kemudian barulah kamu jelasakan dengan seksama kabar apa yang ingin kau sampaikah sehingga kamu mendatangi kami
[5] Nyonya, nyonya tuan…..
[6] Tentara Israel menembak nyonya Zahra dan menewaskannya
[7] Dikutip dari perkatan Syeikh ‘Aidh Al-Qorny

Jumat, 13 November 2015

Hampa

Ketika hati tak mampu memaknai
Apa itu suka, apa itu lara, apa itu cinta
Apa itu rindu, apa itu syahdu, apa itu.....
Kata2 beku di hentikan koma yg meragu
Sedang titik kuingkari  sekuat hati kehadiranya
Namun kata tak juga hadir menyapa
Sajak ini tak boleh berhenti
Seperti nafas yg masih ku hirup kini
Dan, dan, dan....
Sirna, sirna, kemana aksara?
Berhembuslah nafas akhir sajakku, dicabut titik kehampaan

Selasa, 06 Oktober 2015

Senyum Ompong Si Bocah Kecil



                Tanah merah itu baru saja usai ditimbun, batu nisan bertuliskan nama bocah kecil itu pun telah terpasang rapih, satu dua bangun kemboja berjatuhan ditiup angin, seakan pohon kamboja ikut melepas kepergian bocah kecil malang itu. Makam itu begitu cepat lengang, tak ada tangisan yang melepas kepergian bocah itu, tak ada ratapan kehilangan, hanya ada aku memandangi nisannya yang bisu. Baiklah bocah kecil ku temani kau, mari berbincang sejenak sebelum kita berpisah dan aku hanya akan menemukanmu dalam ingatanku.

                Pertama kali aku berjumpa dengamu sobat, kau menyambutku dengan senyuman lugu yang teramat khas, dua gigi ompongmu tidak menghalangimu untuk melepas senyum sempurna. Untuk satu hal ini tampaknya aku harus belajar padamu cara tersenyum dan terus bahagia di keadaan sesulit apapun, sebab ternyata kurang gigi tidak membuatmu lantas menyembunyikan senyuman polosmu. Begitupun aku harus tetap tersenyum meski kehidupanku kurang “gigi” yang berkecukupan untuk memudahkan hidupku. Tentu jika aku berbicara seperti ini tentang ompongmu dan kehidupanku engkau akan memasang wajah bingung lengkap dengan mulutmu yang terbuka lebar begitu saja ketika kau bingung.  Bukan begitu, buka bukan, maksudku bukannya aku kekurangan gigi, maksudku bukan itu, baiklah aku jelaskan sedikit. Tahukah kamu sobat kecil? Orang dewasa terkadang tidak lebih baik darimu, masalah sekecil apapun bahkan lebih kecil dari celah dua gigimu yang ompong bisa membuat wajah mereka kusut tanpa senyum terkembang sedikitpun. Apakah kau mengerti sobat kecil? Ah sudahlah mungkin jika umurmu panjang kau akan mengerti apa yang aku maksud, atau mungkin kau akan menjadi salah satu orang dewasa yang lupa cara tersenyum juga. Sembari tetap mengembangkan senyum kau datang menghampiriku bertanya tanpa ragu kepadaku, “om, nama om siapa?” suaramu yang nyaring lucu membuatku seketika tersenyum kecil kemudian tanpa kusadari tanganku bergerak begitu saja mengusap rambutmu yang panjang memerah. “Nama Om Rif’at, Namamu siapa?” kataku, “Namaku Ian om”, “ Rumahmu dimana? Anak bapak siapa? Rasanya om baru melihat kamu, oh mungkin karena om belum banyak mengenal kampung ini, oom baru pindah”. “ Rumahku dekat sungai om, nama bapak saya Imran om, tapi saya tidak pernah melihat bapak dan ibu saya om, sejak kecil aku tinggal bersama nenek” ujarmu, lantas aku bertanya “ orang tuamu dimana?” “ orang tuaku kata nenek meninggal kecelakaan sewaktu saya kecil” dengan mudahnya kau menjawab tanpa mengurangi keceriaan suaramu. Tahukan engkau sobat kecil, kau begitu hebat dimataku, jauh lebih hebat daripada diriku yang pengeluh, kau mampu tersenyum begitu sempurna dalam “ompongnya” kehidupanmu tanpa kedua orang tuamu, rasanya kau lebih pantas diberi gelar laki-laki sejati dibandingkan aku. “kau mau permen?” ujarku menawarkan. “Mau oom, yang banyak yaa…” kau menjawab sambil melebarkan senyumanmu, dan membuat ompongmu semakin jelas terlihat, membuatku tertawa, dan aku berkata dalam hati, “ kau guru kehidupanku sobat kecil, kau mengajarkanku cara tersenyum, lebih berharga dari sebungkus permen yang kuberikan”. Ternyata sebungkus permen itu adalah pemberianku padamu yang pertama dan terakhir untukmu sobat kecilku, kali kedua aku ingin bertemu denganmu, aku hanya bisa berbincang dengan nisanmu, sakit typhus membuatku tidak bisa melihat senyummu. Aku tidak bisa memberikanmu sebungkus permen kesukaanmu, hanya sebungkus doa aku panjatkan pada rabb semesta alam agar kau ditempatkan disisinya, selamat tinggal sobat kecilku, aku harus pergi meninggalkan pemakaman ini, terimakasih atas senyumanmu…..

Selasa, 21 Juli 2015

Selamat Malam

Dipangkuanmu malam, kurebahkan diri berbantalkan sepi
Dipelukanmu malam, kubergelung berselimut sunyi
Dikeheninganmu malam, kubisikan "selamat malam"
Untuk sebuah nama yg kau sembunyikan di gelapmu
Bukankah ia juga lelap di malam yg sama denganku, 
maka kuucapkan di gelap malamku yg sama dengan gelap malamnya "selamat malam"
Khartoum, 19 juli 2015

Hujanku

Tidak ada hujan sesabar hujan di khartoum, ia harus menghapus kemarau panjang selusin purnama, juga harus meluruhkan kekeringan di ranting yg meranggas, pun tandusan bumi yang di ukir butiran debu kerinduan melukis relief epos-epos rintihan sahara seumpama kening kekasih yg menunggu kecupan.
Tidak ada hujan seharu hujan di khartoum, dentingnya merasuk di kerontang kalbu, mengalirkan imagi yang tersumbat di kanal-kanal rasa yg tertimbun sampah kehampaaan.
Tidak ada hati yang merindu serindu hati ini akan hujan, hadirnya menunaskan harap, menguncupkan cita, membuahkan asa
Kau hujanku.....siapa? Dimana?kapan?
Khartoum, 16 Juli 2015
Perindu Hujan

Sabtu, 04 Juli 2015

NASIHAT DARI SANG SEPI

Jangan pernah merasa sendirian, karena ke-“sendirian” pun merupakan teman yang terbaik. Ia selalu siap menemani ketika orang lain meninggalkanmu, ia selalu bisa memahami ketika orang lain lelah untuk memahamimu. Kesendirian memberikanmu kebebasan untuk berfikir, merenung, memaknai, melihat apa yang sebelumnya terlewatkan karena tertutup keramaian. Kesendirian selalu menunggumu di suatu sudut ketika kau sibuk dengan orang yang kau anggap menemani, meski nantinya pada kesendirianlah kau kembali, mengadu, mengeluhkan luka yang ditorehkan oleh mereka yang anggap sebagai teman. Kesendirian menerimamu tanpa penolakan, merangkulmu dengan sejuk heningnya, mendengarkan semua keluhanmu tanpa jemu, menemanimu ketika tidak ada lagi tempat kembali, namun dengan sangat bijaksananya suatu saat dia mengetuk pintu kesadaranmu bahwa tidaklah semua hal bisa dilakukan “SENDIRI”. Dengan penuh pengertian dia mendukungmu untuk meninggalkanya, dan berbisik “pergilah, tinggalkan aku, kembalilah kepada mereka, aku akan tetap ada disudut ini, menunggumu dan akan selalu setia menerimamu ketika tidak ada lagi tempat kembali”.

Saat ini pun, aku sedang ditemani kesendirian, berbincang dengannya tentang dirinya. Ia mampu menjadi apapun yang aku mau, menjadi guru yang mengajarkan kebijaksanaan, menjadi teman berdiskusi banyak hal, dan ia tidak akan sekalipun berkhianat ketika kutitipkan rahasiaku yang teramat besar. Walaupun ia berpesan padaku bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dengannya, satu yang aku fahami saat aku asyik berbincang dengan “kesendirianku” saat itulah aku mampu berfikir seluas – luasnya, sebebas – bebasnya, sedalam – dalamnya. Hmmmmm, dan aku tidak pernah takut, dan bersembunyi agar tidak ada satu daun telinga pun menguping pembicaraan kami, karena ia berbicara dengan hatiku, bukan dengan telinga, dan menatap dengan penuh arti pada mata hati. Tadi ia berbisik pada sanubariku, ia berwasiat : “ketika kau mencari teman sejati di hidupmu, apapun ia bagimu, sahabat – kah? Partner kerja – kah? Istri – kah ? carilah yang bisa menggantikan posisiku bagimu ketika kau merasa tak ada lagi tempat kembali. Selalu siap menemanimu kapanpun, setia tanpa berfikir sedikitpun untuk beranjak pergi darimu, memahamimu tanpa lelah, mengajarimu berfikir jernih, mendekatkanmu pada kebijaksanaan. Ketika kau dapatkan orang yang sepertiku, maka aku akan tersenyum bahagia disuatu sudut hatimu, bersembunyi tanpa kau sanggup temukan lagi,dan kau takkan merasa kehilanganku karena mereka mampu menggantikanku dengan sempurna, hingga kau lupa bahwa kau pernah SENDIRI, dan pernah berbincang hangat dengan KESENDIRIAN.

Selasa, 30 Juni 2015

Jangan Memilih Untuk Terluka


Hari ini sebuah keraguan atas jujurnya seorang sahabat menjelma menjadi sebuah jarum dan dengan halusnya menusuk hati. Sobat, mungkin kamu tidak sadari, mungkin hati ini saja yang tiba-tiba menjadi terlalu perasa.
Hati itu misteri yang sulit diungkap, pandai sekali menyembunyikan rahasia. Sering sekali bukan kita tersenyum berbalut luka, atau kita temui senyum tulus membungkus kedengkian. Aku laki-laki, namun ada kalanya hati ini menjadi terlalu perasa lebih dari biasa. Hal ini membuat ku berpikir, jika untuk menjaga hati sendiri dari luka saja aku terkadang tidak mampu, maka bagaimanakah kelak aku mampu menjaga hati seorang wanita yang kelak menjadi teman hidupku? Barang tentu wanita mempunyai hati yang lembut dan lebih perasa, dan luka yang digoreskan orang yang amat dekat dengan kita dan begitu kita percayai, lebih menyakitkan lagi untuk dirasakan.
Untuk sebuah nama yang telah tercatat di lawhul mahfudz, lewat angin yang berhembus aku titip satu pesanku padamu, jangan memilih untuk terluka ketika tanpa ku sadari lakuku menjelma jarum bagi hati lembutmu, carilah kata “mungkin” untuk memilih tidak terluka, seduh kata mungkin ini dengan segelas sangka baik yang dapat kau temukan, aduklah dengan kepercayaan bahwa aku mencintaimu, teguklah segera sebelum perih mendera hati. Tahukah engkau? Sebelum kita bersua, sebelum kita terikat, hari ini aku berjanji untuk terus menyiapkan diri untuk bisa menjauhkanmu dari perihnya sakit hati, terlebih lagi menghindarkanmu dari perih azab Illahi. Do'akan aku untuk dua hal yang ku janjikan ini dalam sujud panjangmu, seribu kerinduan mengiringi pesan ini dari aku yang tak sempurna.

KENAPA?

Ini untuk kesekian kalinya aku membuat blog. Tiap kali aku membuat blog selalu berakhir sama, setelah beberapa kali menulis postingan dengan rutin, lalu semakin lama jarak antara satu pos dan pos lainnya melebar, kemudian makin tidak teratur kemudian tidak sama sekali, mandeg, berhenti. Kejadian seperti ini menjelma menjadi siklus burukku tiap kali membuat blog. Semoga kali ini tidak terulang lagi, tetap berjalan dalam keistiqomahan untuk terus menulis.
Ini kali pertama aku membuat blog dengan judul berbahasa Inggris semoga ini juga awal blog yang dapat terus aku istiqomahi. Judulnya Zero Degree, kenapa? Dua kata ini syarat dengan pengalaman yang teramat berharga, mau tanya harganya? harganya adalah dijatuhkan sejatuh-jatuhnya, diremukkan- seremuk-remuknya. Namun dibalik semua itu aku diajarkan satu teori sakti untuk terus berjalan menapaki terjalnya kehidupan oleh sang pemilik kehidupan. Teori yang Allah ajarkan lewat kehidupan yang sempit dan menghimpit, getir mencibir adalah:
0 = ∞ (tak terhingga)
setelah jatuh berkali-kali dalam pendakian demi mendapatkan suatu puncak pencapaian hingga akhirnya terperosok dalam jurang keterpurukan, ketika "bangkit" adalah pendakian yang terlalu sulit untuk dilakukan sebab lengan-lengan pengharapan patah, kaki lumpuh tanpa aliran asa saat itulah dengan terburu-buru gumpalan otak di tengkorak yang tanpa daya menyimpulkan keadaan ini dalam satu kata "mustahil", tak ada kata lain yang lebih tepat. ketika itulah hati yang dianugrahi setitik pijar kecil cahaya iman yang meski terombang-ambing nyalanya dipermainkan ujian hidup memberikan pilihan lain yaitu membersihkan keangkuhan yang selalu mengandalkan daya diri ini yang bahkan tanpa daya hingga titik 0 kepasrahan pada Allah yang maha daya. Ketika itulah aku melihat keajaiban kuasanya, keajaiban yang bahkan teramat dekat, bahkan tidak kita sadari sebelumnya. Disitulahn letak kekuatan yang haqiqi, ketika sang maha daya mengulurkan titahnya untuk memudahkan maka tidak ada satupun yang bisa menyulitkan. Kita hanya perlu menanggalkan jubah keangkuhan kita, menerima agungnya pertolongan yang ia berikan, merasakan rahmatnya yang amat luas, kemudian menjadikan syukur biji tasbih yang selalu kita eja dengan lisan dan hati kita, memutarnya terus menerus dengan amal baik kita, Sebab memaknai syukur tidak sebatas mengucap "Alhamdulillah".