Seperti debu-debu resah tanah
khartoum yang menari bergulung-gulung diombang-ambing badai rindu.
Menerjang apapun dengan debu-debu itu. Ini bahasanya, bahasa rindu.
Bahkan ia bukan sekedar membahasakan rindu, namun berteriak.
Meneriakkan rindu. Kau dengar bukan gemuruhnya yang mengetuki
daun-daun pintu dan jendela. Dengarlah pula atap-atap seng yang
berderak olehnya. Ini teriakkan rindu-nya. Jika ada setitik lubang
saja niscaya debu-debu resah itu akan masuk menemuimu. Apa yang dia
cari?. Hujan. Dia mencari hujan. Hujan yang teramat dirindui oleh
tanah khartoum. Lihatlah retak-retakan kepedihan di tanah yang kau
pijak, itu diukir oleh keringnya penantian. Kau lihat bukan?
Hanya
hujan yang mampu menenangkannya, memeluki tiap titik debu resah
dengan tiap tetesnya. Tiap malam ia berteriak pada langit.
Meneriakkan rindunya, memohon turunnya hujan. Ia berteriak hingga
ujung malam tiba, dan dengan menghiba hanya gumaman doa diluruh
sujudnya yang tersisa diujung malam ini. Malam ini, langit belum
mengabulkan do'anya. Dan lihatlah ada debu resah yang berceceran di
hatiku, adakah celah dihatiku hingga debu itu masuk ke hati ini. Ku
periksa tiap jengkalnya dan tak kutemukan setitik celahpun. Lalu ini
debu resah siapa? Siapa yang merindu? Aku terdiam. Hatikupun berbisik
perlahan “Aku … rindu”.
Pada
pemilik senyum seteduh hujan, ku tujukan rindu ini, ku hunjukkan
pintaku pada langit untukmu, untuk senyummu yang meneduhkan.
kata
seseorang, untuk mencarimu aku harus mencari di langit dengan
do'a-do'a di ujung malam, meski kau ada di bumi. Untuk menjemputmu
aku harus menemuimu penciptamu di sujud-sujud penutup malam. Sebab
sungguh mustahil, mencari apa yang belum pernah kau temui.

0 komentar:
Posting Komentar