Minggu, 17 April 2016

Teriakkan Rindu

Seperti debu-debu resah tanah khartoum yang menari bergulung-gulung diombang-ambing badai rindu. Menerjang apapun dengan debu-debu itu. Ini bahasanya, bahasa rindu. Bahkan ia bukan sekedar membahasakan rindu, namun berteriak. Meneriakkan rindu. Kau dengar bukan gemuruhnya yang mengetuki daun-daun pintu dan jendela. Dengarlah pula atap-atap seng yang berderak olehnya. Ini teriakkan rindu-nya. Jika ada setitik lubang saja niscaya debu-debu resah itu akan masuk menemuimu. Apa yang dia cari?. Hujan. Dia mencari hujan. Hujan yang teramat dirindui oleh tanah khartoum. Lihatlah retak-retakan kepedihan di tanah yang kau pijak, itu diukir oleh keringnya penantian. Kau lihat bukan?
Hanya hujan yang mampu menenangkannya, memeluki tiap titik debu resah dengan tiap tetesnya. Tiap malam ia berteriak pada langit. Meneriakkan rindunya, memohon turunnya hujan. Ia berteriak hingga ujung malam tiba, dan dengan menghiba hanya gumaman doa diluruh sujudnya yang tersisa diujung malam ini. Malam ini, langit belum mengabulkan do'anya. Dan lihatlah ada debu resah yang berceceran di hatiku, adakah celah dihatiku hingga debu itu masuk ke hati ini. Ku periksa tiap jengkalnya dan tak kutemukan setitik celahpun. Lalu ini debu resah siapa? Siapa yang merindu? Aku terdiam. Hatikupun berbisik perlahan “Aku … rindu”.
Pada pemilik senyum seteduh hujan, ku tujukan rindu ini, ku hunjukkan pintaku pada langit untukmu, untuk senyummu yang meneduhkan.
kata seseorang, untuk mencarimu aku harus mencari di langit dengan do'a-do'a di ujung malam, meski kau ada di bumi. Untuk menjemputmu aku harus menemuimu penciptamu di sujud-sujud penutup malam. Sebab sungguh mustahil, mencari apa yang belum pernah kau temui.


0 komentar:

Posting Komentar