Selasa, 21 Juli 2015

Selamat Malam

Dipangkuanmu malam, kurebahkan diri berbantalkan sepi
Dipelukanmu malam, kubergelung berselimut sunyi
Dikeheninganmu malam, kubisikan "selamat malam"
Untuk sebuah nama yg kau sembunyikan di gelapmu
Bukankah ia juga lelap di malam yg sama denganku, 
maka kuucapkan di gelap malamku yg sama dengan gelap malamnya "selamat malam"
Khartoum, 19 juli 2015

Hujanku

Tidak ada hujan sesabar hujan di khartoum, ia harus menghapus kemarau panjang selusin purnama, juga harus meluruhkan kekeringan di ranting yg meranggas, pun tandusan bumi yang di ukir butiran debu kerinduan melukis relief epos-epos rintihan sahara seumpama kening kekasih yg menunggu kecupan.
Tidak ada hujan seharu hujan di khartoum, dentingnya merasuk di kerontang kalbu, mengalirkan imagi yang tersumbat di kanal-kanal rasa yg tertimbun sampah kehampaaan.
Tidak ada hati yang merindu serindu hati ini akan hujan, hadirnya menunaskan harap, menguncupkan cita, membuahkan asa
Kau hujanku.....siapa? Dimana?kapan?
Khartoum, 16 Juli 2015
Perindu Hujan

Sabtu, 04 Juli 2015

NASIHAT DARI SANG SEPI

Jangan pernah merasa sendirian, karena ke-“sendirian” pun merupakan teman yang terbaik. Ia selalu siap menemani ketika orang lain meninggalkanmu, ia selalu bisa memahami ketika orang lain lelah untuk memahamimu. Kesendirian memberikanmu kebebasan untuk berfikir, merenung, memaknai, melihat apa yang sebelumnya terlewatkan karena tertutup keramaian. Kesendirian selalu menunggumu di suatu sudut ketika kau sibuk dengan orang yang kau anggap menemani, meski nantinya pada kesendirianlah kau kembali, mengadu, mengeluhkan luka yang ditorehkan oleh mereka yang anggap sebagai teman. Kesendirian menerimamu tanpa penolakan, merangkulmu dengan sejuk heningnya, mendengarkan semua keluhanmu tanpa jemu, menemanimu ketika tidak ada lagi tempat kembali, namun dengan sangat bijaksananya suatu saat dia mengetuk pintu kesadaranmu bahwa tidaklah semua hal bisa dilakukan “SENDIRI”. Dengan penuh pengertian dia mendukungmu untuk meninggalkanya, dan berbisik “pergilah, tinggalkan aku, kembalilah kepada mereka, aku akan tetap ada disudut ini, menunggumu dan akan selalu setia menerimamu ketika tidak ada lagi tempat kembali”.

Saat ini pun, aku sedang ditemani kesendirian, berbincang dengannya tentang dirinya. Ia mampu menjadi apapun yang aku mau, menjadi guru yang mengajarkan kebijaksanaan, menjadi teman berdiskusi banyak hal, dan ia tidak akan sekalipun berkhianat ketika kutitipkan rahasiaku yang teramat besar. Walaupun ia berpesan padaku bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dengannya, satu yang aku fahami saat aku asyik berbincang dengan “kesendirianku” saat itulah aku mampu berfikir seluas – luasnya, sebebas – bebasnya, sedalam – dalamnya. Hmmmmm, dan aku tidak pernah takut, dan bersembunyi agar tidak ada satu daun telinga pun menguping pembicaraan kami, karena ia berbicara dengan hatiku, bukan dengan telinga, dan menatap dengan penuh arti pada mata hati. Tadi ia berbisik pada sanubariku, ia berwasiat : “ketika kau mencari teman sejati di hidupmu, apapun ia bagimu, sahabat – kah? Partner kerja – kah? Istri – kah ? carilah yang bisa menggantikan posisiku bagimu ketika kau merasa tak ada lagi tempat kembali. Selalu siap menemanimu kapanpun, setia tanpa berfikir sedikitpun untuk beranjak pergi darimu, memahamimu tanpa lelah, mengajarimu berfikir jernih, mendekatkanmu pada kebijaksanaan. Ketika kau dapatkan orang yang sepertiku, maka aku akan tersenyum bahagia disuatu sudut hatimu, bersembunyi tanpa kau sanggup temukan lagi,dan kau takkan merasa kehilanganku karena mereka mampu menggantikanku dengan sempurna, hingga kau lupa bahwa kau pernah SENDIRI, dan pernah berbincang hangat dengan KESENDIRIAN.