Tidak ada hujan sesabar hujan di khartoum, ia harus menghapus kemarau panjang selusin purnama, juga harus meluruhkan kekeringan di ranting yg meranggas, pun tandusan bumi yang di ukir butiran debu kerinduan melukis relief epos-epos rintihan sahara seumpama kening kekasih yg menunggu kecupan.
Tidak ada hujan seharu hujan di khartoum, dentingnya merasuk di kerontang kalbu, mengalirkan imagi yang tersumbat di kanal-kanal rasa yg tertimbun sampah kehampaaan.
Tidak ada hati yang merindu serindu hati ini akan hujan, hadirnya menunaskan harap, menguncupkan cita, membuahkan asa
Kau hujanku.....siapa? Dimana?kapan?
Khartoum, 16 Juli 2015
Perindu Hujan
Selasa, 21 Juli 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

waah!! keren puisinya kak... :)
BalasHapusDialah yang sedang menantimu
BalasHapusWaw
BalasHapuswaw apa sih...
BalasHapus