Senin, 03 Oktober 2016

Taklukkan Suraqahmu


Oleh: Rif’at Mubarok

            Hari ini 2 Oktober 2016 merupakan hari yang mempunya arti yang teramat penting bagi Umat Islam. Hari di mana sebuah peristiwa penting terjadi pada 1438 tahun silam, hijrahnya Nabi Muhammmad saw ke Yastrib yang akhirnya menjadi permulaan tahun baru Hijriah. Meskipun peristiwa ini telah lama terjadi namun nilai yang terkandung di dalamnya tak akan pernah usang tertutupi tebalnya debu-debu waktu yang mampu menjadikan segala peristiwa menjadi
sebatas sejarah yang terabaikan lagi tak bernilai. Peristiwa ini merupakan titik tolak Umat Islam dari keterpurukan, penindasan, penjajahan kepada kejayaan dan kemerdekaan dalam bertauhid kepada Allah.
            Hijrah Nabi Muhammad saw dan permulaan tahun Hijriah tidak terjadi begitu saja. Ada kisah yang terlalu berharga untuk diendapkan begitu saja dalam buku-buku tebal perjalan Nabi Muhammad dalam menyiarkan Agama Islam di jazirah Arab. Siksaan kaum kafir Quraisy yang semakin menjadi pada kaum muslimlah yang melatar belakangi kejadian ini. Pada tahun 622 M (tahun 13 kenabian) Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk berhijrah ke Madinah. Kabar ini tersiar di kalangan kaum kafir Quraisy, dan mereka segera menyusun siasat untuk membunuh Nabi sebelum hijrah ke Madinah. Mereka mengutus beberapa pemuda untuk mengepung rumah Nabi untuk kemudian membunuhnya. Berkat pertolongan Allah Nabi Muhammad bisa meloloskan diri dan yang mereka temui di dalam rumah beliau hanyalah Ali bin Abi Thalib yang menggantikan beliau tidur di peraduannya. Hal ini tentu saja membuat berang kaum kafir Quraisy, lalu mereka pun mengadakan sayembara untuk  melakukan pengejaran dan pembunuhan terhadapnya. Nabi Muhammad bersama Abu Bakar ra bersembunyi selama tiga hari di Gua Tsur tanpa diketahui oleh kaum kafir Quraisy, namun pada hari ketiga ketika mereka memulai perjalanan ke Madinah ( 16 September 622 M) seorang kafir Quraisy bernama Suraqah bin Malik menemukan beliau  dan segera mengejar beliau dengan sebuah tombak terhunus di tangannya. Namun  atas pertolongan Allah swt kuda yang ditungganginya terperosok dan terjungkal setiap kali ia mencoba untuk bangkit dan mengejar Rasulullah. Akhirnya ia meyakini kenabian Muhammad saw dan memutuskan untuk menghentikan pengejaran. Setelah melakukan perjalanan selama 6 hari akhirnya sampailah Nabi Muhammad pada tanggal 22 September 622 M dan disambut oleh warga Madinah dengan suka-cita. Dan dari sinilah Islam mulai meluas dan berkembang ke seluruh jazirah Arab.
            Pengertian Hijrah dalam Islam adalah berpindah dari tanah yang menyulitkan diri untuk bebas beribadah kepada Allah ke tanah yang lebih baik lagi leluasa dalam beribadah kepada Allah. Jika kita kaitkan pengertian ini dan kisah hijrah Rasulullah kita akan petik banyak hikmah. Konsep hijrah ini bisa kita gunakan pula untuk menghijrahkan diri kita dari keburukan menuju kebaikan, hal ini tersirat dalam sebuah hadits Rasulullah saw:
لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتىَّ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ، وَلاَ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتىَّ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Hijrah tidak akan terhenti hingga terputusnya pintu taubat dan pintu taubat tidak pernah terputus hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Abu Dawud, dari Muawiyah, dishahihkan Al Albani).

Dalam hijrah yang dilakukan Rasulullah terdapat banyak sekali halangan dan rintangan, namun semua itu bisa dilewati beliau dengan melakukan usaha yang optimal dibarengi keimananan dan keyakinan yang  kuat atas pertolongan Allah, hingga akhirnya Rasulullah dan Umat Islam kala itu mendapatkan kemenangan yang telah dijanjikan Allah. Hal ini tentu juga banyak kita alami ketika kita ingin menghijrahkan diri kita ke arah yang lebih baik lagi diridhoi oleh Allah dari jalan yang dibenci Allah. Akan banyak rintangan dan cobaan yang kita hadapi dengan jatuh-bangun dan berdarah-darah, akan banyak suraqah-suraqah lain dalam berbagai bentuk yang terus menghalangi ketika kita menempun jalan hijrah itu. Maka untuk menaklukkan  segala rintangan dan suraqah-suraqah yang menghalangi, yang perlu kita lakukan adalah dengan mensucikan niat, berusaha optimal dibarengi keimanan dan keyakinan akan pertolongan Allah, maka niscaya kita akan mendapatkan kemenangan sebagaimana dahulu Rasulullah dan Para Muhajirun telah membuktikannya. Maka pada momentum tahun baru Islam ini, marilah kita menjadi bagian dari golongan orang-orang yang berhijrah, menjadi Para Muhajirun yang memenangkan pertolongan Allah.

Jumat, 22 Juli 2016

KENAPA


Satu kata tanya ini tidak memerlukan jawaban yang panjang lebar. Bahkan ia hanya memerlukan jawaban pendek, ringkas, tepat sasaran, jujur. Ia sering menguji kejujuran kita. Bukan kepada orang lain, namun jujur pada diri sendiri. Ia juga sering menampar kita dengan keenam jemari hurufnya, menyadarkan kita tatkala lalai dan  membelot dari jalan lurus yang digariskan niatan baik yang awalnya kita lakukan sepenuh hati namun tergoyahkan oleh keraguan yang diembuskan oleh setan.
Jangan pernah berhenti bertanya "kenapa" pada dirimu sendiri,  jangan pernah takut untuk menjawabnya dengan benar-benar jujur. Singkirkan segala kepura-puraan yang mengotori setiap niatan baik. Ada kalanya kita harus mengurungkan perbuatan baik untuk memurnikan niat awal, atau bahkan membatalkannya ketika kita sadar ada yang salah dengan niatan kita. Untuk bisa menggapai kesadaran dan membeningkan hati dibutuhkan kejujuran pada tanya "kenapa". Jujurlah....
Bertanyalah "kenapa" pada dirimu sendiri atas segala kesalahan yang pernah kau lakukan, maka segala kesalahanmu akan menjadi pelajaran dan nasihat berharga untukmu. Bertanyalah "kenapa" pada dirimu atas segala niatan yang terbetik di hatimu, jawablah dengan seluruh kejujuran yang kau punya, kristalkan niatmu dengan kata tanya "kenapa", singkirkan segala niatan yang bercangkang indah namun menyimpan keburukan, maka hidupmu akan selurus sirotul mustaqim. Dan ingatlah berbelok sehasta tatkala kau menitinya adalah kecelakaan. Neraka. Dengan bertanya "kenapa" tidak ada yang akan berujung pada kesia-sian, bahkan kerikil-kerikil penyesalan yang selalu mengganjal hatimu, kan menjadi pondasi kuat untuk menjadi pribadi lebih baik.
Mulailah bertanya "kenapa" pada dirimu sendiri sekarang juga. Aku akan memulainya. "Kenapa aku menulis tulisan panjang lebar tulisan ini?" Jawabnya, " Aku ingin menampar diriku sendiri yang lalai, dan menepuk bahumu sobat, agar tetap terjaga dalam kebaikan".

Minggu, 17 April 2016

Teriakkan Rindu

Seperti debu-debu resah tanah khartoum yang menari bergulung-gulung diombang-ambing badai rindu. Menerjang apapun dengan debu-debu itu. Ini bahasanya, bahasa rindu. Bahkan ia bukan sekedar membahasakan rindu, namun berteriak. Meneriakkan rindu. Kau dengar bukan gemuruhnya yang mengetuki daun-daun pintu dan jendela. Dengarlah pula atap-atap seng yang berderak olehnya. Ini teriakkan rindu-nya. Jika ada setitik lubang saja niscaya debu-debu resah itu akan masuk menemuimu. Apa yang dia cari?. Hujan. Dia mencari hujan. Hujan yang teramat dirindui oleh tanah khartoum. Lihatlah retak-retakan kepedihan di tanah yang kau pijak, itu diukir oleh keringnya penantian. Kau lihat bukan?
Hanya hujan yang mampu menenangkannya, memeluki tiap titik debu resah dengan tiap tetesnya. Tiap malam ia berteriak pada langit. Meneriakkan rindunya, memohon turunnya hujan. Ia berteriak hingga ujung malam tiba, dan dengan menghiba hanya gumaman doa diluruh sujudnya yang tersisa diujung malam ini. Malam ini, langit belum mengabulkan do'anya. Dan lihatlah ada debu resah yang berceceran di hatiku, adakah celah dihatiku hingga debu itu masuk ke hati ini. Ku periksa tiap jengkalnya dan tak kutemukan setitik celahpun. Lalu ini debu resah siapa? Siapa yang merindu? Aku terdiam. Hatikupun berbisik perlahan “Aku … rindu”.
Pada pemilik senyum seteduh hujan, ku tujukan rindu ini, ku hunjukkan pintaku pada langit untukmu, untuk senyummu yang meneduhkan.
kata seseorang, untuk mencarimu aku harus mencari di langit dengan do'a-do'a di ujung malam, meski kau ada di bumi. Untuk menjemputmu aku harus menemuimu penciptamu di sujud-sujud penutup malam. Sebab sungguh mustahil, mencari apa yang belum pernah kau temui.


Rabu, 13 April 2016

Diam

Tak ada banyak kata yang terucap antara kita, sebab apalah artinya kata-kata? Ketika diam pun sudah mampu menyampaikan rasa yang bahkan tidak mampu disampaikan seribu rangkain kata, ini bahasa kita, bahasa hati yang mampu menembus keterbatasan kata”.
****
Aku ingat sekali bagaimana pertemuan itu kembali terjalin setelah kita lama berpisah dan hampir saling melupakan. Bahkan untuk mengingat serpihan serpihan kenangan tentangmu aku harus mengerutkan dahiku. Ternyata aku masih punya ingatan tentangmu, ingatan tentang sesosok gadis yang bahkan lebih tinggi dariku namun pendiam. Gadis pendiam itu kamu bukan? Sudah pasti kamu, aku ingat sekali dua kepangmu, lucu. Enam tahun lamanya kita berpisah tanpa tegur sapa, ah sudahlah, apa bedanya dengan waktu itu ketika kita sama-sama mengagumi Mas Anjas guru Matematika yang paling asyik sedunia? atau apa bedanya dengan waktu itu ketika kita sama-sama asyik mendengarkan ocehan riang Mba Dian staff administrasi paling ramah? Sama, tidak ada beda sama sekali, kamu selalu diam bahkan untuk sekedar bertukar sapa. Lalu bagaimana dengan diriku waktu itu? Tak jauh beda denganmu, akupun PENDIAM. Namun bagaimanapun hal itu berlalu, kita tidak pernah mengira bahwa “diam” akan menyatukan kita dalam satu dimensi yang tidak seorangpun bisa mengerti, hanya kita berdua, aku dan kamu.
Enam tahun rupanya cukup untuk membuat kita berbicara banyak hal dan meninggalkan predikat “diam”. Kala itu kita banyak berbincang banyak hal tentang kenangan masa lalu yang kita lewati tanpa sekalipun tegur sapa. Membicarakan kabar teman-teman yang jejaknya-pun aku hampir kehilangan dalam ingatanku. Menceritakan kisah kehidupanmu setelah kita berpisah, pun membicarakan kisahku. Enam tahun itu sanggup memecah “kediaman” kita. Kala itu adalah sepenggal waktu yang penuh kata. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, pada suatu waktu perlahan kita mulai menyadari ada sesuatu yang halus yang menelusup diantara perbincangan kita dan perlahan kita pun mulai menyadari dan tahu bagaimana menamai “sesuatu” itu. Ketika “sesuatu” itu hadir kita kehabisan kata-kata untuk diperbincangkan, kita kehabisan hal-hal yang membuat “Si Pendiam” berkata-kata kembali. Karena apa yang ada di benak dan hati kita hanya tentang “sesuatu” itu. Sedangkan “sesuatu” itu tidak bisa diperbicangkan, sebab kata-kata tak mampu untuk memperbincangkan, sebab kata-kata tak cukup mampu untuk menyatakan apa dan bagaimana sesuatu itu. Jadilah kita kembali kepada “kediaman” kita. Hanya sesekali kita berucap kata tentang "sesuatu" itu. Kata yang tak mampu mengungkapkannya. Meskipun pernah kita mencoba, kita hanya bisa terbata untuk menjelaskan "sesuatu" itu dengan kata. Akhirnya kita hanya bisa menyerah pada lemahnya kata-kata untuk mampu mengungkapkan “sesuatu” itu. Perlahan kita mulai menikmati kembali kediaman itu meskipun tak sama dengan enam tahun lalu. Kediaman kali ini dihiasi senyum-senyum kecil penuh makna. Banyak waktu kita nikmati dengan “diam” demi menyelami kedalaman makna “sesuatu” itu, kita pernah melewati senja dengan diam yang demikian syahdu, kita pernah menapaki jalanan bersama keheningan yang amat sempurna tanpa kata, hanya suara tapak kaki kita yang terdengar begitu merdu, bahkan diakhir jalan yang mengharuskan kita berpisah hanya beberapa patah kata yang bisa kita ucapkan dengan sangat terbata-bata. Meskipun begitu kita teramat tau betapa hebatnya kediaman kita itu, dan tidak ada satu-pun orang yang akan mengerti. Ini bahasa hati kita, sebab hati yang demikian dekat tak lagi membutuhkan kata untuk menyampaikan apa yang dirasa.
Ah, telah panjang lebar kita membahas masa lalu. Bagaimanakah kediaman kita saat ini? Masihkah sama? Tentu. Meski sedikit berbeda. Kediaman kita kali ini untuk memperbaiki diri kita masing-masing, agar cukup baik untuk membicarakan “sesuatu” yang kita rasa. Meskipun kelak kita membicarakan “sesuatu” itu dengan orang lain, bukan antara aku dan kamu. Haruskah kita menyebutkan “sesuatu” itu disini? Tidak perlu bukan? Karena “sesuatu” itu tidak cukup untuk diungkapkan kata-kata. Dan pengungkapannya dengan kata-kata saat ini akan menodai kehebatan dan ke”luarbiasaan” sesuatu itu. Apakah sesuatu itu? Cukup katakan dalam hati.
Khartoum, 14 April 2016

Senin, 04 April 2016

Penyair Yang Merdeka

Tulislah puisi untuk dirimu sendiri, karena tidak ada satupun kata yang salah dalam puisi yang kau buat, bahkan tidak satu huruf pun.
Jangan menulis puisi untuk dinilai orang lain, karena kedalaman puisi akan didapat ketika kita mampu memuaskan diri sendiri dengan apa yang kita tulis tanpa harus terganggu oleh penilaian orang lain. JADILAH PENYAIR YANG MERDEKA.
Aku ingin merdeka malam ini, maka kata-kata sederhana ini hanya untukku, bukan untuk siapapun. Kata-kata ini kubuat untuk ku titipkan pada debu kering yang merindui hujan, hingga tatkala hujan menemui sang debu, ia dapat membisikkan kepada sang hujan betapa merdekanya aku malam ini.
Tentang menulis hai saudaraku, tentu kita sering menyerah atas kebuntuan-kebuntuan yang sering kali hinggap pada diri kita yang kemudian membuat kita berputus asa. MENULIS tak ubahnya belajar mengayuh sepeda, satu-satu nya yang kita perlukan agar kita bisa melaju dengan baik adalah dengan terus mengayuh meskipun harus berkali-kali terjatuh. MAKA MENULISLAH....tanpa henti.... hingga penamu mampu menggoreskan kata-kata yang indah dan bermakna.

Senin, 29 Februari 2016

Kabisatmu Ibu

Hari ini kabisat bu,  sekali empat tahun saja.
Tapi bukan kabisat kita.
Kabisat kita empat tahun pula, tapi bukan kabisat ini.
Lamanya bu? lamanya terhitung semenjak aku melangkahkan kaki keluar rumah kecil kita hingga aku pulang lalu kembali kepelukanmu yg selalu menungguku di ambang pintu dengan do'a-do'a.
Kala itu bu, penantian kita akan berbuah manis.
Rindu yang menguncup akan mekar menjadi haru yang biru.
Haru yg melukisi pipi kita menjadi semerah mawar, juga mengembuni mata kita dengan air mata suka.
Hari itu, akan ku ceritakan kisah anak lelakimu yg mencoba setangguh Ayah.
Kisah anakmu yg mencoba memaknai hidup lewat panasnya debu-debu khartoum.
Saat ini sedang ku siapkan cerita terbaik dan terindah, agar kelak kau bisa bangga bahwa akulah ANAK LELAKIMU.

Khartoum, Kabisat mereka di 29 februari 2016

Minggu, 28 Februari 2016

Biarkan Tulisanmu Mengalir Seperti Air

“biarkan tulisanmu mengalir seperti air di kali. Tak peduli jernih atau keruh kah dirinya. Tak peduli di hadang batu, tak peduli alirnya membawa bangkai ataupun bunga”. Telah lama aku tau tentang hal ini dari para peramu aksara yang begitu tuba katanya, begitu tuak, begitu ganja, begitu candu hingga memaksaku membacanya berkali, mengaguminya tak henti-henti. Tapi tetap saja AKU yang ego, tak mau menuruti apa yang mereka katakan. Padahal diamnya mereka pun mesti puisi. Sedang aku? Bahkan tapa Sembilan purnama pun tak mampu mendapatkan wangsit barang satu huruf pun. Aduhai malangnya diri.
Kali ini akhirnya aku manut. Kulepaskan saja jemari menuliskan apa yang hati ingin katakan tanpa coba menghalangi, menyembunyikan, menghapus, dan membuang bahasa hati yang aku tuangkan lewat kata-kata yang kadang lusuh diksinya ataupun seperti sutra, meski jarang sesutra. Tidak pernah. tepatnya tidak ada. Satupun.
Aku menulis saja apa yang ingin aku tulis. Perlahan mengurai kebuntuan hati dengan sabar dan tenang. Ketika menemui simpul rasa yang begitu kusut maknanya, kusut-sekusutnya. Tetap mengurainya perlahan dengan kata yang bahkan jauh dari sempurna, namun aku tetap mencoba. Tanpa memaksa. Ku biarkan saja, mengalir, perlahan mengalir, setetes demi tetes memecah kebuntuan imaji yang membatu, seperti Asqalany dan batu yang menjadi gurunya. Hingga akhirnya sampai pada ujung bait ini. Kuakhiri dengan senyum yang masih sesak menghujat rangkaian kata yang masih pula tak sempurna. Sudah ah, pokoknya titik(.)


Khartoum, kasur reot maududi alif, ujung bulan kabisat 2016

Jumat, 08 Januari 2016

Puisi Tengah Malam


Lewat daun jendela
Ku lihat bintang mengerling genit purnama
Sinarnya berkerlip - kerlip menggodainya
Hei....
Seruku cemburu
"Itu purnamaku..."
Kerlip bintang seakan berhenti
Malukah ia?
Duhai, bukankah Aku yg salah, bukankah mereka telah berkasih sejak lama dipertemukan malam?
Ku lempar pandangan panjang padanya berbisik maaf dalam diam
Jika purnama yg menggantung di atap langit telah dimilik bintang gemintang, lalu purnama tersaput cadar yg ku jumpa di senja lalu milik siapakah?
Indahnya melebihi purnama penuh tanpa tabir mendung awan

Awang-Uwungku, 00:28 P.M