Senin, 29 Februari 2016

Kabisatmu Ibu

Hari ini kabisat bu,  sekali empat tahun saja.
Tapi bukan kabisat kita.
Kabisat kita empat tahun pula, tapi bukan kabisat ini.
Lamanya bu? lamanya terhitung semenjak aku melangkahkan kaki keluar rumah kecil kita hingga aku pulang lalu kembali kepelukanmu yg selalu menungguku di ambang pintu dengan do'a-do'a.
Kala itu bu, penantian kita akan berbuah manis.
Rindu yang menguncup akan mekar menjadi haru yang biru.
Haru yg melukisi pipi kita menjadi semerah mawar, juga mengembuni mata kita dengan air mata suka.
Hari itu, akan ku ceritakan kisah anak lelakimu yg mencoba setangguh Ayah.
Kisah anakmu yg mencoba memaknai hidup lewat panasnya debu-debu khartoum.
Saat ini sedang ku siapkan cerita terbaik dan terindah, agar kelak kau bisa bangga bahwa akulah ANAK LELAKIMU.

Khartoum, Kabisat mereka di 29 februari 2016

Minggu, 28 Februari 2016

Biarkan Tulisanmu Mengalir Seperti Air

“biarkan tulisanmu mengalir seperti air di kali. Tak peduli jernih atau keruh kah dirinya. Tak peduli di hadang batu, tak peduli alirnya membawa bangkai ataupun bunga”. Telah lama aku tau tentang hal ini dari para peramu aksara yang begitu tuba katanya, begitu tuak, begitu ganja, begitu candu hingga memaksaku membacanya berkali, mengaguminya tak henti-henti. Tapi tetap saja AKU yang ego, tak mau menuruti apa yang mereka katakan. Padahal diamnya mereka pun mesti puisi. Sedang aku? Bahkan tapa Sembilan purnama pun tak mampu mendapatkan wangsit barang satu huruf pun. Aduhai malangnya diri.
Kali ini akhirnya aku manut. Kulepaskan saja jemari menuliskan apa yang hati ingin katakan tanpa coba menghalangi, menyembunyikan, menghapus, dan membuang bahasa hati yang aku tuangkan lewat kata-kata yang kadang lusuh diksinya ataupun seperti sutra, meski jarang sesutra. Tidak pernah. tepatnya tidak ada. Satupun.
Aku menulis saja apa yang ingin aku tulis. Perlahan mengurai kebuntuan hati dengan sabar dan tenang. Ketika menemui simpul rasa yang begitu kusut maknanya, kusut-sekusutnya. Tetap mengurainya perlahan dengan kata yang bahkan jauh dari sempurna, namun aku tetap mencoba. Tanpa memaksa. Ku biarkan saja, mengalir, perlahan mengalir, setetes demi tetes memecah kebuntuan imaji yang membatu, seperti Asqalany dan batu yang menjadi gurunya. Hingga akhirnya sampai pada ujung bait ini. Kuakhiri dengan senyum yang masih sesak menghujat rangkaian kata yang masih pula tak sempurna. Sudah ah, pokoknya titik(.)


Khartoum, kasur reot maududi alif, ujung bulan kabisat 2016