Selasa, 30 Juni 2015

KENAPA?

Ini untuk kesekian kalinya aku membuat blog. Tiap kali aku membuat blog selalu berakhir sama, setelah beberapa kali menulis postingan dengan rutin, lalu semakin lama jarak antara satu pos dan pos lainnya melebar, kemudian makin tidak teratur kemudian tidak sama sekali, mandeg, berhenti. Kejadian seperti ini menjelma menjadi siklus burukku tiap kali membuat blog. Semoga kali ini tidak terulang lagi, tetap berjalan dalam keistiqomahan untuk terus menulis.
Ini kali pertama aku membuat blog dengan judul berbahasa Inggris semoga ini juga awal blog yang dapat terus aku istiqomahi. Judulnya Zero Degree, kenapa? Dua kata ini syarat dengan pengalaman yang teramat berharga, mau tanya harganya? harganya adalah dijatuhkan sejatuh-jatuhnya, diremukkan- seremuk-remuknya. Namun dibalik semua itu aku diajarkan satu teori sakti untuk terus berjalan menapaki terjalnya kehidupan oleh sang pemilik kehidupan. Teori yang Allah ajarkan lewat kehidupan yang sempit dan menghimpit, getir mencibir adalah:
0 = ∞ (tak terhingga)
setelah jatuh berkali-kali dalam pendakian demi mendapatkan suatu puncak pencapaian hingga akhirnya terperosok dalam jurang keterpurukan, ketika "bangkit" adalah pendakian yang terlalu sulit untuk dilakukan sebab lengan-lengan pengharapan patah, kaki lumpuh tanpa aliran asa saat itulah dengan terburu-buru gumpalan otak di tengkorak yang tanpa daya menyimpulkan keadaan ini dalam satu kata "mustahil", tak ada kata lain yang lebih tepat. ketika itulah hati yang dianugrahi setitik pijar kecil cahaya iman yang meski terombang-ambing nyalanya dipermainkan ujian hidup memberikan pilihan lain yaitu membersihkan keangkuhan yang selalu mengandalkan daya diri ini yang bahkan tanpa daya hingga titik 0 kepasrahan pada Allah yang maha daya. Ketika itulah aku melihat keajaiban kuasanya, keajaiban yang bahkan teramat dekat, bahkan tidak kita sadari sebelumnya. Disitulahn letak kekuatan yang haqiqi, ketika sang maha daya mengulurkan titahnya untuk memudahkan maka tidak ada satupun yang bisa menyulitkan. Kita hanya perlu menanggalkan jubah keangkuhan kita, menerima agungnya pertolongan yang ia berikan, merasakan rahmatnya yang amat luas, kemudian menjadikan syukur biji tasbih yang selalu kita eja dengan lisan dan hati kita, memutarnya terus menerus dengan amal baik kita, Sebab memaknai syukur tidak sebatas mengucap "Alhamdulillah".

0 komentar:

Posting Komentar